Langkah Kaki yang Menolak Tua : Merajut Rindu dan Sehat Bersama ILUNI 34'85 di Acara Fun Walk

Olahraga 16 Jun 2026 08:42 4 min read 6 views By Ginandjar

Share berita ini

Langkah Kaki yang Menolak Tua : Merajut Rindu dan Sehat Bersama ILUNI 34'85 di Acara Fun Walk
"Mens sana in corpore sano" bukan sekadar slogan bagi keluarga besar ILUNI 34'85, melainkan panggilan jiwa untuk merajut kembali tali silaturahmi yang telah terjalin puluhan tahun. Pada Minggu, 10 Mei 2026 lalu itu, semangat tersebut mewujud nyata dalam Sunday Fun Walk di Taman Bendera PUSAKA, Kebayoran Baru; di mana tawa yang pecah di bawah rimbun pepohonan seolah membawa waktu berputar mundur, mempertemukan kembali para sahabat lama dalam kehangatan napak tilas masa lalu yang menggetarkan kalbu.

Mens sana in corpore sano—sebuah pepatah Latin tua yang mengingatkan kita bahwa di dalam tubuh yang sehat, bersemayam jiwa yang kuat. Namun bagi keluarga besar ILUNI 34'85, untaian kalimat itu bukan sekadar slogan di atas kertas. Ia adalah sebuah panggilan kerinduan. Panggilan untuk kembali melangkah bersama, saling menatap mata, dan mendekap erat tali silaturahmi yang telah terajut selama puluhan tahun.

 

Hari Minggu pekan lalu, 10 Mei 2026, mentari pagi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saksi dari sebuah pertemuan yang menggetarkan kalbu. Berbeda dari biasanya, Sunday Fun Walk kali ini memilih perlindungan hijau di Taman Bendera Pusaka. Di bawah rimbunnya dedaunan dan kontur tanah taman yang naik-turun, jejak-jejak langkah kaki para sahabat lama mulai menapak. Ada tawa yang pecah, ada senyum yang merekah, seolah waktu berjalan mundur membawa mereka kembali ke masa-masa indah dahulu.

Ketika Jarak Bukan Penghalang Jiwa

Mengumpulkan para sahabat di tengah kesibukan masa tua tentu bukan perkara mudah. Hanya dalam waktu satu minggu sejak acara ini diumumkan, desiran rindu itu langsung bersambut hangat. Sebanyak kurang lebih 50 pasang kaki hadir memadati taman.

 

Tentu, ada sudut sepi karena beberapa sahabat terpaksa absen. Sang Sekretaris Umum, Bu Dini, masih tertahan oleh tugasnya di Semarang. Begitu pula dengan Sahabat Iwan Ikhwanul, yang tubuhnya lelah setelah memimpin rapat organisasi olahraga hingga larut malam.

 

Namun, ketiadaan mereka tidak mengurangi kehangatan yang tercipta. Jiwa mereka tetap terasa hadir di sana. Semangat itu justru ditiupkan kuat-kuat oleh Sang Ketua ILUNI 34'85, Mas Irza Ifdial. Datang lebih awal dari yang lain, Mas Irza hadir bukan hanya sebagai pemimpin, melainkan sebagai seorang saudara yang berdiri di garis depan untuk menyambut keluarganya. Langkahnya disusul dengan penuh suka cita oleh Walle, Renthy, Buddhy Riz, Kang Acep, Nenny Alamanda, dan puluhan sahabat lainnya.

 

"Pertemuan ini tak hanya tentang menyegarkan badan yang mulai menua, tetapi tentang merawat detak jantung silaturahmi agar tetap kuat dan abadi."

Menemukan Kembali 'Titik Nol' Kehidupan

Suasana berubah khidmat namun hangat saat mereka melingkar bersama untuk memulai senam Ling Tien Kung. Olahraga yang kini menjadi primadona di usia senja ini dipandu langsung dengan penuh kesabaran oleh Sahabat Nenny Alamanda.

 

Ling Tien Kung, yang secara puitis berarti "Ilmu Titik Nol" , seakan menjadi metafora bagi perjalanan hidup mereka. Di usia saat ini, mereka diajak kembali ke titik nol—titik di mana kesehatan dan kedamaian menjadi harta yang paling berharga. Dengan penuh kesungguhan, para peserta mengikuti gerakan demi gerakan: jinjit-jinjit untuk memulihkan saraf yang mulai kaku, serta empet-empet anus demi melancarkan aliran darah yang mulai melambat.

 

"Hanya dengan 20 menit saja, tanpa obat, tanpa alat, energi kita akan kembali mengalir dan bugar," ucap Bu Nenny dengan suara lembut penuh perhatian. Kalimat sederhana yang mengingatkan semua yang hadir bahwa tubuh ini adalah titipan yang harus dijaga dengan cinta. Sungguh sebuah momen yang mengingatkan kita pada pelatihan pengurus di Sentul tempo hari, saat Bu Nenny dengan setia memimpin senam favorit ini selepas sarapan pagi.

Rekaman Kamera dan Pesan dari Hati

Setelah peluh membasahi kaos, tawa kembali pecah saat sesi foto bersama. Kang Ginandjar, sang "Mat Kodak" setia, datang dengan napas terengah-engah. Meski terlambat karena harus menunaikan kewajiban rapat DKM Masjid An Nur di lingkungan rumahnya, Kang Ginandjar tak ingin kehilangan momen berharga ini.

 

Meski ia sendiri kehilangan kesempatan untuk ikut berjalan kaki dan bersenam, tangannya dengan cekatan membidik lensa. Satu per satu wajah-wajah sahabat karibnya ia rekam. Lewat bidikan lensanya, Kang Ginandjar sedang mengabadikan keabadian: sebuah bukti bahwa mereka pernah sedekat ini, sehangat ini.

 

Acara pagi itu pun ditutup dengan kesederhanaan yang mewah: secangkir kopi hangat dan sepiring sarapan yang disantap bersama. Di sela-sela obrolan penutup, Mas Irza Ifdial menyampaikan sebuah pesan. Katanya, "Usia jangan jadi penghalang untuk sebuah kegiatan yang menyehatkan jiwa dan raga. Mari kita teruskan jalan sehat ini menjadi agenda rutin kita."

Matahari makin meninggi di atas Taman Bendera Pusaka, memayungi langkah pulang para sahabat ILUNI 34'85. Mereka pulang tidak hanya dengan tubuh yang lebih bugar, tetapi dengan jiwa yang penuh. Karena mereka tahu, di rambut yang mulai memutih dan langkah yang tak lagi secepat dulu, ada sebuah rumah bernama ILUNI 34'85 tempat mereka selalu bisa kembali untuk pulang dan saling menguatkan.(Ginandjar)

InNews